Cerita ini dimulai saat aku masih SMP. Cerita dimana akan sangat
menyakitkan, setidaknya untukku. Yup, bullying
bukan sekedar bumbu di sebuah serial drama. It’s
real, terjadi di sudut kehidupan yang kecil.
Aku pernah menjalani kehidupan seperti kunang-kunang. Betapa aku yakin
hingga kini jika itu adalah masa emasku, masa aku masih memiliki kepercayaan
diriku. Memiliki prestasi, aktif di organisasi, dan memiliki teman-teman yang
banyak disekitarku.
Hari itu, gerimis terus mengguyur bumi, seolah menghemat air yang ia
jatuhkan. Mungkin gerimis tahu jika ia menumpahkan airnya sekaligus, tanah ini
akan kebanjiran.
Tepat di pojok meja depan, sesosok asing terduduk diam karena canggung.
Tanpa bertanya pun semua tau jika dia adalah murid baru. Aku tergerak untuk
berkenalan dengannya. Sangat percaya diri? Bukan, karena saat itu aku hanya
senang berteman dengan orang lain.
Senyum ramahku ia balas dengan senyum yang canggung. Aku memakluminya
dengan menanyakan namanya. Namanya cukup indah, Ossey.
Aku memulainya dengan baik, teman-teman kelasku yang lain ikut beriung
dan antusias berkenalan dengannya. Dia pun tersenyum ramah, menunjukkan diri
bahwa dia sebenarnya anak yang baik.
Dalam hitungan hari, hampir semua orang di sekolah kenal dengannya. Itu
wajar. Dia begitu cantik dan pintar. Aku pun turut senang dia bisa beradaptasi
dengan cepat. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Aku merasa sedikit ada yang berbeda dengan teman-temanku. Beberapa dari
mereka sengaja menjauh dariku. Aku bukan sedang bermain intuisi, tetapi memang
terasa jika mereka menjauhiku. Aku bertanya pada yang lain, tapi tak ada
jawaban.
Tak lebih dari seminggu, aku merasa jika aku tidak memiliki teman
seorang pun. Aku menyapa pun tidak ada yang menjawab, aku bertanya, aku
berteriak, apapun yang kulakukan hanya mendapat satu respons: mengabaikanku.
Duniaku runtuh dengan cepat, tetapi aku benar-benar lambat menyadari apa
penyebabnya. Kak Mint terus mendesakku untuk menceritakan apa yang sedang
terjadi padaku. Begitu juga Mama dan Papa. Tapi aku hanya diam membisu dengan
tatapan kosong dan penuh depresi.
Dua bulan berlalu aku berhenti berbicara pada siapapun. Aku tidak pernah
bersuara. Aku pun berhenti berorganisasi, karena sebanyak apapun gagasan yang
aku kemukakan, tak ada yang meresponsku.
Aku dipanggil untuk menghadap ke ruang BK. Guru-guru bertanya mengapa
aku keluar dari organisasi karena aku memiliki cetak rekor yang baik dalam
organisasi. Aku tak menjawab seolah aku juga ikut meng-copy apa yang teman-teman lakukan padaku.
Guruku mencoba meyakinkanku, mencoba mengorek informasi dariku. Tapi tak
sepatah kata pun keluar dari mulutku. Tenggorokanku tak pernah bergetar lagi.
Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Semua hanya terasa kosong, aku
sangat takut untuk bersuara. Aku takut jika suaraku tak didengar lagi.
Sampai akhirnya guruku bertanya apakah aku dibully oleh teman kelasku. Mulutku tetap membisu, tetapi air hangat
mengalir dari kedua kelopak mataku. Guruku memelukku dengan erat dan dia ikut
menangis bersamaku.
Guruku memanggil teman-teman kelas dan mulai mengintrogasi mereka. Dan
semua bersaksi, bahwa tak ada satupun yang melakukan kekerasan fisik maupun
verbal kepadaku. Lalu apa yang terjadi padaku?
Aku kembali dipanggil BK dan mempertanyakan hal yang sama. Aku hanya
menggeleng lemah dan keluar dari BK untuk kembali ke kelas.
Dalam kelas nilai hasil ujian keluar. Tertera namaku di atas semua nama
murid, di atas nama Ossey. Tidak ada yang riuh menyorak kata selamat padaku,
semua riuh untuk Ossey karena dia di peringkat dua.
Aku keluar kelas dan duduk sendiri di bawah pohon beringin yang besar
nan rindang, sembari menyantap bekal yang kuterima dari rumah.
“Aya!” Teriak seseorang. Aku diam. Refleksku untuk menoleh sepertinya
hilang, seolah aku lupa siapa diriku.
“Hebat, sejatuh ini pun kamu masih belum tumbang ya?”
“Jawab kalau diajak ngomong!” Pemilik suara itu marah sebab aku tak
menjawab apa-apa. Tiba-tiba sebuah tangan menjambak rambutku dengan keras,
memaksaku untuk melihat orang yang tega menjambak rambut yang sudah tak terawat
ini.
Mataku membelalak tak percaya saat kudapati jawabannya. Ossey dengan
sorot matanya yang tajam. Berbeda sekali dengan apa yang sering aku lihat
selama ini. Dia berlalu begitu saja setelah bersumpah untuk membuatku
benar-benar tumbang.
Esok harinya, tiba-tiba seseorang menyapaku. Mencoba untuk bertegur sapa
denganku. Ia tak pernah menyerah walau akhirnya dia menyerah karena aku tak
kunjung bersuara.
Dia menangis sembari menceritakan yang terjadi dengannya. Dia juga mulai
mengalami hal yang aku alami karena dia menyadari sesuatu.
Ternyata selama ini ada banyak fitnah dibelakangku. Melunturkan nama
baik yang aku bangun. Semua itu berasal dari Ossey. Orang itu juga berkata
bahwa Ossey benar-benar membenci diriku.
Dia sadar setelah tak sengaja melihat kejadianku saat di pohon beringin
lalu. Ia mencoba menceritakan apa yang dia lihat kepada orang lain dan hasilnya
bukan apa yang diharapkan.
“Aku mohon, berbicaralah denganku, aku takut..” Katanya sembari terisak.
“Maaf aku sudah banyak terhasut Ossey..”
Aku mencoba berkata sesuatu tetapi aku tak bisa karena pita suaraku
melemah. Akhirnya aku menulisnyna di secarik kertas putih.
Terimakasih
telah berbicara denganku
Aku menangis bersama dia. Pulang sekolah aku mencoba menceritakannya,
menceritakan semuanya pada keluargaku. Marah, kesal, sedih, lega, semua
bercampur aduk dan tumpah tanpa bisa dicegah lagi.
Esoknya aku tidak sekolah karena aku akan diberi perawatan, entah secara
psikis maupun fisikku karena setelah kusadari aku benar-benar butuh
pertolongan. Sementara itu Kak Mint pergi ke sekolah bersama Nila, gadis yang
membuatku akhirnya bersuara.
Hari itu Kak Mint menyamar jadi aku karena walau usia kami beda 4 tahun,
kami sangat mirip layaknya saudari kembar. Bahkan Nila sama sekali tak sadar,
begitu pula kami. Tak ada yang sadar bahwa Kak Mint pergi menyamar menjadi
diriku.
Di sekolah, ‘aku’ mencari sosok Ossey. Setelah ‘aku’ menemukannya, ‘aku’
langsung menghajar Ossey. Ossey terlihat bingung dan syok.
“Dengar ya! Semua yang dikatakan anak ini adalah fitnah!” Teriak Kak
Mint di hadapan semua anak-anak yang mencoba menghadang Kak Mint.
“Dan kalian adalah segerombolan anak kambing yang congek! Mau-maunya diperdaya
cewek ular kayak gini!”
“Bulan lalu, minggu lalu, adek gue yang kena. Kemaren, anak ini yang
kena!” Tunjuk Kak Mint ke arah Nila.
“Besok, kalian yang kena!”
Aksinya ini mendapat banyak perhatian. Bukan hanya murid-murid di sana,
tetapi juga guru-guru yang akhirnya menyeret paksa Kak Mint.
“Kalian guru-guru gak becus! Gak mampu liat bahwa adek gue kena bullying sampe-sampe hari ini dia harus
ke rumah sakit untuk memulai perawatan! Mana tanggung jawab kalian wahai para
pendidik!!”
“Tapi dia bilang sendiri bahwa dia nggak dibully! Teman-temannya pun tidak ada yang melakukan kekerasan secara
fisik maupun verbal.”
“Secetek itukah?! Apa kalian mau bilang bahwa dia mendapat trauma,
mendapat ketakutan, mendapat kecemasan tanpa sebab?! Dia gak pernah ngomong lagi.
Berbulan-bulan lamanya! Kalian ga sadar atau menolak untuk mengetahuinya?!”
Amarah Kak Mint itu sanggup membungkam mulut-mulut yang katanya adalah
pengajar, pendidik generasi itu.
“Kami akan menuntut sekolah untuk kejadian ini. Bersiaplah.”
Ancaman Kak Mint sejalan dengan kemarahan Mama dan Papa. Kami
benar-benar memperkarakan hal ini ke pihak yang berwajib. Selama aku di rumah
sakit aku tak tahu apa-apa sampai Nila menjengukku dan menceritakan semuanya.
Pada akhirnya kami memenangkannya dalam peradilan. Dan aku menolak untuk
tahu apa yang terjadi selanjutnya. Beritanya pun sempat menjadi berita
nasional, membuat masyarakat tiba-tiba bersuara menolak perundungan di bumi
pertiwi.
Omong kosong. Pikirku saat itu. Kenyataannya masih banyak korban-korban
perundungan di sekitar kita. Dan kita menolak untuk sekadar tahu dan
menolongnya. Kita tak peduli karena itu tidak menguntungkan sama sekali untuk
kita. Kita tak peduli karena kita takut terlibat.
Setelah menjalani perawatan, aku pindah sekolah dengan sosok baru. Aku
tidak ingin menonjolkan diriku lagi. Seperti yang kalian lihat saat ini.
Dan Kak Mint? Dia menjadi terkenal di sekolahnya gara-gara aksi yang dia
lakukan. Tapi dia menolak untuk di sebut pahlawan. Dia hanya berkata bahwa dia
ingin menolong adiknya yang ia sayangi.
Terimakasih Ma, Pa, Kak, dan Nila. Lalu Ossey bagaimana? Aku tidak tahu
dan tidak ingin tahu.