Kamis, 14 Maret 2019

Karena Itu Aku: Bullying


Cerita ini dimulai saat aku masih SMP. Cerita dimana akan sangat menyakitkan, setidaknya untukku. Yup, bullying bukan sekedar bumbu di sebuah serial drama. It’s real, terjadi di sudut kehidupan yang kecil.

Aku pernah menjalani kehidupan seperti kunang-kunang. Betapa aku yakin hingga kini jika itu adalah masa emasku, masa aku masih memiliki kepercayaan diriku. Memiliki prestasi, aktif di organisasi, dan memiliki teman-teman yang banyak disekitarku.

Hari itu, gerimis terus mengguyur bumi, seolah menghemat air yang ia jatuhkan. Mungkin gerimis tahu jika ia menumpahkan airnya sekaligus, tanah ini akan kebanjiran.

Tepat di pojok meja depan, sesosok asing terduduk diam karena canggung. Tanpa bertanya pun semua tau jika dia adalah murid baru. Aku tergerak untuk berkenalan dengannya. Sangat percaya diri? Bukan, karena saat itu aku hanya senang berteman dengan orang lain.

Senyum ramahku ia balas dengan senyum yang canggung. Aku memakluminya dengan menanyakan namanya. Namanya cukup indah, Ossey.

Aku memulainya dengan baik, teman-teman kelasku yang lain ikut beriung dan antusias berkenalan dengannya. Dia pun tersenyum ramah, menunjukkan diri bahwa dia sebenarnya anak yang baik.

Dalam hitungan hari, hampir semua orang di sekolah kenal dengannya. Itu wajar. Dia begitu cantik dan pintar. Aku pun turut senang dia bisa beradaptasi dengan cepat. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Aku merasa sedikit ada yang berbeda dengan teman-temanku. Beberapa dari mereka sengaja menjauh dariku. Aku bukan sedang bermain intuisi, tetapi memang terasa jika mereka menjauhiku. Aku bertanya pada yang lain, tapi tak ada jawaban.

Tak lebih dari seminggu, aku merasa jika aku tidak memiliki teman seorang pun. Aku menyapa pun tidak ada yang menjawab, aku bertanya, aku berteriak, apapun yang kulakukan hanya mendapat satu respons: mengabaikanku.

Duniaku runtuh dengan cepat, tetapi aku benar-benar lambat menyadari apa penyebabnya. Kak Mint terus mendesakku untuk menceritakan apa yang sedang terjadi padaku. Begitu juga Mama dan Papa. Tapi aku hanya diam membisu dengan tatapan kosong dan penuh depresi.

Dua bulan berlalu aku berhenti berbicara pada siapapun. Aku tidak pernah bersuara. Aku pun berhenti berorganisasi, karena sebanyak apapun gagasan yang aku kemukakan, tak ada yang meresponsku.

Aku dipanggil untuk menghadap ke ruang BK. Guru-guru bertanya mengapa aku keluar dari organisasi karena aku memiliki cetak rekor yang baik dalam organisasi. Aku tak menjawab seolah aku juga ikut meng-copy apa yang teman-teman lakukan padaku.

Guruku mencoba meyakinkanku, mencoba mengorek informasi dariku. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Tenggorokanku tak pernah bergetar lagi.

Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Semua hanya terasa kosong, aku sangat takut untuk bersuara. Aku takut jika suaraku tak didengar lagi.

Sampai akhirnya guruku bertanya apakah aku dibully oleh teman kelasku. Mulutku tetap membisu, tetapi air hangat mengalir dari kedua kelopak mataku. Guruku memelukku dengan erat dan dia ikut menangis bersamaku.

Guruku memanggil teman-teman kelas dan mulai mengintrogasi mereka. Dan semua bersaksi, bahwa tak ada satupun yang melakukan kekerasan fisik maupun verbal kepadaku. Lalu apa yang terjadi padaku?

Aku kembali dipanggil BK dan mempertanyakan hal yang sama. Aku hanya menggeleng lemah dan keluar dari BK untuk kembali ke kelas.

Dalam kelas nilai hasil ujian keluar. Tertera namaku di atas semua nama murid, di atas nama Ossey. Tidak ada yang riuh menyorak kata selamat padaku, semua riuh untuk Ossey karena dia di peringkat dua.

Aku keluar kelas dan duduk sendiri di bawah pohon beringin yang besar nan rindang, sembari menyantap bekal yang kuterima dari rumah.

“Aya!” Teriak seseorang. Aku diam. Refleksku untuk menoleh sepertinya hilang, seolah aku lupa siapa diriku.

“Hebat, sejatuh ini pun kamu masih belum tumbang ya?”

“Jawab kalau diajak ngomong!” Pemilik suara itu marah sebab aku tak menjawab apa-apa. Tiba-tiba sebuah tangan menjambak rambutku dengan keras, memaksaku untuk melihat orang yang tega menjambak rambut yang sudah tak terawat ini.

Mataku membelalak tak percaya saat kudapati jawabannya. Ossey dengan sorot matanya yang tajam. Berbeda sekali dengan apa yang sering aku lihat selama ini. Dia berlalu begitu saja setelah bersumpah untuk membuatku benar-benar tumbang.

Esok harinya, tiba-tiba seseorang menyapaku. Mencoba untuk bertegur sapa denganku. Ia tak pernah menyerah walau akhirnya dia menyerah karena aku tak kunjung bersuara.

Dia menangis sembari menceritakan yang terjadi dengannya. Dia juga mulai mengalami hal yang aku alami karena dia menyadari sesuatu.

Ternyata selama ini ada banyak fitnah dibelakangku. Melunturkan nama baik yang aku bangun. Semua itu berasal dari Ossey. Orang itu juga berkata bahwa Ossey benar-benar membenci diriku.

Dia sadar setelah tak sengaja melihat kejadianku saat di pohon beringin lalu. Ia mencoba menceritakan apa yang dia lihat kepada orang lain dan hasilnya bukan apa yang diharapkan.

“Aku mohon, berbicaralah denganku, aku takut..” Katanya sembari terisak.

“Maaf aku sudah banyak terhasut Ossey..”

Aku mencoba berkata sesuatu tetapi aku tak bisa karena pita suaraku melemah. Akhirnya aku menulisnyna di secarik kertas putih.

Terimakasih telah berbicara denganku

Aku menangis bersama dia. Pulang sekolah aku mencoba menceritakannya, menceritakan semuanya pada keluargaku. Marah, kesal, sedih, lega, semua bercampur aduk dan tumpah tanpa bisa dicegah lagi.

Esoknya aku tidak sekolah karena aku akan diberi perawatan, entah secara psikis maupun fisikku karena setelah kusadari aku benar-benar butuh pertolongan. Sementara itu Kak Mint pergi ke sekolah bersama Nila, gadis yang membuatku akhirnya bersuara.

Hari itu Kak Mint menyamar jadi aku karena walau usia kami beda 4 tahun, kami sangat mirip layaknya saudari kembar. Bahkan Nila sama sekali tak sadar, begitu pula kami. Tak ada yang sadar bahwa Kak Mint pergi menyamar menjadi diriku.

Di sekolah, ‘aku’ mencari sosok Ossey. Setelah ‘aku’ menemukannya, ‘aku’ langsung menghajar Ossey. Ossey terlihat bingung dan syok.

“Dengar ya! Semua yang dikatakan anak ini adalah fitnah!” Teriak Kak Mint di hadapan semua anak-anak yang mencoba menghadang Kak Mint.

“Dan kalian adalah segerombolan anak kambing yang congek! Mau-maunya diperdaya cewek ular kayak gini!”

“Bulan lalu, minggu lalu, adek gue yang kena. Kemaren, anak ini yang kena!” Tunjuk Kak Mint ke arah Nila.

“Besok, kalian yang kena!”

Aksinya ini mendapat banyak perhatian. Bukan hanya murid-murid di sana, tetapi juga guru-guru yang akhirnya menyeret paksa Kak Mint.

“Kalian guru-guru gak becus! Gak mampu liat bahwa adek gue kena bullying sampe-sampe hari ini dia harus ke rumah sakit untuk memulai perawatan! Mana tanggung jawab kalian wahai para pendidik!!”

“Tapi dia bilang sendiri bahwa dia nggak dibully! Teman-temannya pun tidak ada yang melakukan kekerasan secara fisik maupun verbal.”

“Secetek itukah?! Apa kalian mau bilang bahwa dia mendapat trauma, mendapat ketakutan, mendapat kecemasan tanpa sebab?! Dia gak pernah ngomong lagi. Berbulan-bulan lamanya! Kalian ga sadar atau menolak untuk mengetahuinya?!” Amarah Kak Mint itu sanggup membungkam mulut-mulut yang katanya adalah pengajar, pendidik generasi itu.

“Kami akan menuntut sekolah untuk kejadian ini. Bersiaplah.”

Ancaman Kak Mint sejalan dengan kemarahan Mama dan Papa. Kami benar-benar memperkarakan hal ini ke pihak yang berwajib. Selama aku di rumah sakit aku tak tahu apa-apa sampai Nila menjengukku dan menceritakan semuanya.

Pada akhirnya kami memenangkannya dalam peradilan. Dan aku menolak untuk tahu apa yang terjadi selanjutnya. Beritanya pun sempat menjadi berita nasional, membuat masyarakat tiba-tiba bersuara menolak perundungan di bumi pertiwi.

Omong kosong. Pikirku saat itu. Kenyataannya masih banyak korban-korban perundungan di sekitar kita. Dan kita menolak untuk sekadar tahu dan menolongnya. Kita tak peduli karena itu tidak menguntungkan sama sekali untuk kita. Kita tak peduli karena kita takut terlibat.

Setelah menjalani perawatan, aku pindah sekolah dengan sosok baru. Aku tidak ingin menonjolkan diriku lagi. Seperti yang kalian lihat saat ini.

Dan Kak Mint? Dia menjadi terkenal di sekolahnya gara-gara aksi yang dia lakukan. Tapi dia menolak untuk di sebut pahlawan. Dia hanya berkata bahwa dia ingin menolong adiknya yang ia sayangi.

Terimakasih Ma, Pa, Kak, dan Nila. Lalu Ossey bagaimana? Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.

Karena Itu Aku: Cinta dan Lelaki


Pagi itu, ku beri kabar kepada orang di rumah bahwa aku akan pulang pekan ini. Ku bereskan kembali kamar kosanku dan barang-barang yang akan ku bawa.

“Aku berangkat dulu. Assalamualaikum!” Pamitku pada kedua teman kos ku.

“Iya Ya, hati-hati!” Balas mereka.

Sepanjang jalan, aku banyak melamunkan banyak hal, entah itu mimpiku, rencana-rencanaku dan yang lainnya sembari memandangi dunia yang seolah-olah bergerak. Ilusi yang indah di balik jendela mobil.

Lamunanku buyar saat ponselku bergetar. Terdapat sebuah pesan singkat dari kakakku yang aku panggil Kak Mint. Menanyakan apa aku benar akan pulang hari ini.

Jika boleh bercerita sedikit tentang kakakku ini, sebenarnya nama dia bukan mint kok! Aku memanggilnya demikian karena dia sangat suka dengan bau mint yang segar. Jadi aku menjuluki dia mint, dan dia tidak keberatan sama sekali.

Berbeda denganku yang sangat keberatan di panggil Hotaru olehnya. Sangat asing! Tapi mau menolak sekeras apapun juga dia takkan berubah.

Dengan tenang aku sampai di rumah. Mama sedang pergi ke rumah tetangga, sementara ayah bekerja. Hanya ada Kak Mint yang sedang ambil cuti yang ada di rumah.

Dia menyambutku dengan gembira dan sedikit berlebihan. Dia juga yang membantuku mengangkut barang-barang yang aku bawa, padahal sebenarnya aku sama sekali tidak kerepotan karena barang yang aku bawa tidak banyak.

Kak Mint keluar kamarku setelah membantuku dengan tergesa-gesa. Tak lama kemudian dia kembali dan membawakan kue cokelat yang mungkin dia beli entah kapan entah dimana.

“Jujur aja deh, ada apa?” Tanyaku curiga. Yang ditanya hanya nyengir.

“Dek! Masih inget gak sama Abu?”

“Tau, cowok yang kakak taksir dari zaman kuliah kan.” Jawabku sembari memakan kue cokelat itu.

“Liat nih!” Teriaknya sambil menyodorkan ponselnya tepat di depan mataku.

Ku lihat ponselnya dengan enggan dan malas. Ku baca dengan cepat yang intinya bahwa si Abu meminta Kak Mint untuk menjalin hubungan dengannya.

“Yakin?” Tanyaku ragu. Sebab aku tahu betul orang yang disukai oleh kakakku ini sama sekali bukan orang yang baik. Dia tipikal cowok brengsek kelas teri.

“Gimana dong, kan kamu tau sendiri udah berapa lama coba aku nungguin dia.”

“Ya udah terima aja.”

“Tapi..”

“Kalau ragu ya gak usah lah.”

“Menurut kamu kakak mesti gimana?”

“Menurut aku sih lupain aja.”

“Duh Dek gak segampang itu lah! Kakak tuh udah bertahun-tahun suka sama dia!”

“Gini deh, biar gampang,” ku ambil ponsel Kak Mint untuk memastikan apa yang ingin aku katakan.

“Abu itu bilang kalau dia baru sadar dengan besarnya rasa kakak itu, terus selama ini dia bego atau pura-pura gak tau?”

“Ya mungkin dia ga sadar Dek, kan kakak juga diem-diem.”

“Setahuku sediem-diemnya seseorang sedang mencinta pasti yang dicinta sadar, kecuali dia bodoh atau menolak untuk tau. Dan Abu ini tipe yang mana?”

“Oke lah aku anggap dia gak tahu, tapi gini. Ehem, apa dia minta maaf gitu karena dia sama sekali ga nyadar?”

Kak Mint menatap layar ponselnya dan menjawab, “Nggak.”

Akhirnya kami berdebat panjang. Kak Mint dengan cinta butanya dan aku yang berusaha menyadarkannya. Sampai akhirnya kami terdiam satu sama lain.

“Kamu gak suka banget ya sama Abu?”

“Iya.” Jawabku singkat.

“Kenapa?”

Kalau sudah ditanya begitu mau gimana lagi? Aku pun menyerahkan ponselku, memperlihatkan balon-balon chat textku dengan Abu yang memintaku untuk menjalin hubungan persis di tanggal yang sama dengan Kak Mint.

“Kok kamu bisa kenal sama dia?”

“Kemaren ada pas ada acara di kampus dia ada, nemenin temennya.”

Kak Mint mengotak-atik ponselku setelah tertegun sesaat. Rupanya dia menelpon Abu dan memakinya habis-habisan.

“Puas?” Tanyaku setelah telpon ditutup.

“Dasar gila tuh cowok emang.”

Tak lama kemudian, terdengar suara salam dari luar rumah. Kak Mint segera bergegas keluar.

Aku pun berpikir, apakah itu cinta jika jatuh dan membutakan seperti halnya yang dialami Kak Mint? Bukankah cinta membuat kita nyaman dan sadar akan dunia? Entahlah, karena aku tidak pernah merasakannya.

Kak Mint kembali masuk ke kamarku sembari membawa sebuah kotak yang berukuran biasa.

“Paket?”

“Nggak, ini di kasih Grey. Padahal aku gak serius bilang pengen cokelat.” Jawabnya santai sembari mengulum cokelat itu. Aku hanya menggeleng lemah.

‘Dasar, dia emang bodoh.’

Karena Itu Aku: Iri


Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan sahabat SMA ku. Bukan secara kebetulan, tapi karena kami memang janjian. Kami memutuskan untuk bertemu di depan kampusku.

Saat ku lihat dia sudah banyak berubah, menjadi lebih baik dan terlihat sangat dewasa. Berbeda denganku yang penampakannya tidak ada yang berubah sejak SD.

Aku menyapa dia dengan lembut dan dibalas dengan nada yang gembira. Rindu katanya. Setelah itu aku langsung mengajaknya ke mall terdekat.

Kami banyak bercakap hari itu, saling bertukar informasi dan kabar. Ku lihat dia sangat bahagia dengan kehidupan barunya. Dalam hati aku terus berkata tak apa jika kehidupan baruku tidak seluar biasa kehidupan barunya.

Akhirnya hari sudah sore dan kami memutuskan untuk pulang. Aku ikut mengantar dia, sekadar ingin tahu lokasi dia sekarang ini. Di sepanjang perjalanan kami hanya diam, sesekali akulah yang memancing pembicaraan. Namun mungkin kami juga terlalu lelah hari itu, tak ada pembicaraan yang berarti.

Sesampainya aku di sana, aku takjub. Betapa berbedanya kehidupan yang kami tempuh. Dia dengan kampus yang besar apalah daya dibandingkan dengan kampusku yang hanya seukuran salah satu gedung yang ada di sana.

Hatiku sedikit merasakan sesuatu yang tidak enak. Kemudian kami berpapasan dengan orang yang berpakaian sangat tertutup dan dia menyapa sahabatku ini. Aku jadi teringat dengan teman-teman barunya yang punya banyak hapalan Al-Qur’an. Berbeda denganku yang khatam Al-Qur’an saja belum.

Sepanjang perjalanan pulangku, aku merasa sudah bukan siapa-siapa lagi. Aku merasa iri dengan apa yang kuketahui barusan. Aku sedih jika aku akan mudah tergeser karena aku sama sekali bukan orang yang lebih baik dari orang-orang yang dia kenal.

Sebanyak apapun kamu berkata untuk mensyukuri apa yang aku punya, tidak menampik bahwa aku iri dengan kehidupan hebat orang lain.

Karena itu aku, aku kunang-kunang yang sedikit diketahui keberadaannya. Yang manfaatnya tidak seberapa dengan matahari.

Karena Itu Aku: Perkenalan


Namaku Amaya Hotaru. Nama yang Jepang banget gak sih? Entahlah, itu pemberian dari kedua orang tuaku. Awalnya sih aku agak gimana gitu dengan nama ini. Mungkin karena pengaruh teman-temanku yang selalu bilang bahwa namaku ini sok Jepang, akhirnya aku pun ikut tidak suka dengan namaku sendiri.

Namun setelah aku remaja, aku sadar namaku sendiri memiliki arti yang sangat dalam. Kata mama sih, Amaya artinya langit malam, sementara Hotaru itu artinya kunang-kunang.

“Kenapa harus kunang-kunang? Kenapa nggak bintang atau apa gitu?” Tanyaku yang penasaran saat itu.

“Karena ibaratnya cahaya pada kunang-kunang itu ilmu, ilmu itu bisa membantu orang lain, ilmu itu bisa menyelamatkan hidup kamu, ilmu itu cahaya di langit malam.”  Jawab Mama santai.

“Ya kenapa gak bintang aja Ma? Kan bintang juga bercahaya?”

“Hmm.. kenapa ya? Karena kunang-kunang itu kecil. Kamu gak perlu besar untuk menyinari banyak orang, cukup untuk orang-orang di sekitar kamu. Berbuat baik untuk hal kecil, tidak perlu menampakkan kalau kamu membantu.”

Ya kira-kira seperti itu jawabannya. Intinya namaku itu harapan besar dengan cara yang paling sederhana. Saat aku mengerti, aku pun langsung merasa bangga dengan nama yang aku miliki ini. Ya walaupun nama panggilanku itu ya, Aya, bukan Hotaru.

Itu yang terjadi saat aku SMA. Sekarang aku adalah mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta. Aku kehilangan banyak kepercayaan diriku untuk menjadi kunang-kunang itu sendiri. Aku mungkin terlihat tegar tatkala memandang jauh Mama dan Papa yang akan pulang setelah mengantar. Tapi percayalah, seingin apapun aku bebas, tetap saja aku akan kalah dengan rasa takutku. Bagaimana aku bisa bertahan?

Di kosanku sendiri aku sudah memiliki teman, yang entah mereka bisa cepat mengakrabkan diri denganku, padahal aku sendiri masih canggung dekat mereka. Di sela-sela pembicaraan mereka aku hanya diam, sejujurnya bukan karena aku tidak ingin bergabung dengan mereka, tapi aku sendiri nggak tahu apa yang mereka sedang bicarakan.

Aku juga tidak mengerti bagaimana mereka dengan mudahnya bilang bahwa mereka sudah cocok meski baru kenal. Apa aku tidak salah? Atau bagaimana? Mereka bahkan belum tahu kejelekkan masing-masing, bagaimana jika salah satu dari mereka mulai menampakkannya?

Pertanyaanku segera dijawab oleh waktu, bahkan jika aku tidak bertanya pun, waktu akan menunjukkannya. Salah satu dari mereka mulai terlihat keburukannya. Ramailah mereka berkata yang jelek tentang dia. Tapi ya yang namanya juga manusia, ada kalanya sesi ‘jujur-jujuran’. Setelah jujur-jujuran, kena lah yang menjelek-jelekkan orang yang sebelumnya. Begitu siklusnya, takkan terputus hingga mereka bisa memaafkan satu sama lain dan melupakan apa yang terjadi.

Lalu aku bagaimana? Aku hanya pihak yang mendengarkan dan menyarankan di kedua belah pihak. Terlihat sangat muka dua, ke sana iya, ke sini iya. Memang aku harus bagaimana jika mau bersikap netral saja? Masalah mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupanku, kecuali mereka adalah orang yang dekat denganku, aku tak masalah jika begitu.

Akhirnya aku memutuskan untuk pindah kosan karena suasananya bukan suasana milikku. Aku mengajak salah satu teman kelasku untuk ngekos bersama. Alasannya bukan karena aku dekat dengan dia, tapi karena tempat kos baruku itu sendiri akan lebih murah jika tinggal bersama teman. Kami bertiga cukup untuk saling mengisi ruang di kamar yang luas tersebut.

Pada suatu kesempatan aku bisa mengobrol dengan teman kosan lamaku. Dari ceritanya, dia ingin pindah. Tapi bukan hal itu yang membuatku kesal, tapi cerita bagaimana penjaga kosan dulu ‘mengata-ngatai’ aku sejak aku pindah.

Subhanallah, beruntungnya aku segera pindah dari sana. Namun saat itu aku yang tersulut ikut bercerita buruk tentang yang lainnya.

Ya mau bagaimana lagi? Karena itu kan aku? Aku yang orang biasa yang bisa marah saat dijelek-jelekkan saat aku berusaha menutupi yang ada.

Bangau Kertas 2



     “Kamu sakit ya?” Tanya seorang gadis kecil dengan potongan rambut pendek di sebuah rumah sakit besar. Yang ditanyapun hanya diam tertunduk lesu. Gadis itu menyobek kertas dan melipatnya. Anak lelaki yang tadinya tidak tertarik itu memperhatikannya. Gadis itu menyodorkan sebuah bangau kertas kepadanya.

     “Jangan patah semangat ya!” Ucap gadis itu dengan riang, membuat anak lelaki itu tersenyum. Di atas sayap itu terdapat nama gadis itu. Habil.

     “Shaleh! Bangun nak! Yuk Shalat Subuh!” Ternyata tadi hanyalah mimpi. Mimpi yang sebenarnya cuplikan dari sebuah kenangan yang tersimpan dalam memori Shaleh. Shaleh bangun dan mengusap wajah ngantuknya. Ia masih saja ingat dengan kejadian itu. Meski yang masih ia ingat dari gadis itu adalah tahi lalat di bawah mata kanannya. Namun karena gadis itulah Shaleh berjuang melawan kankernya. Sejauh ini ia masih hidup.

     Sudah seminggu Shaleh tidak masuk sekolah, karena ia melakukan pengobatan. Ia juga masih ingat dokter berkata hidupnya takkan bertahan sampai 1 bulan. Shaleh pasrah, meski dalam hatinya ia tak mau kehilangan seluruh titipanNya. Seperti Ibunya yang selalu menemaninya setiap Shaleh berobat, atau ayahnya yang tak pernah berhenti shalat malam.

     Hari itu ia datang ke sekolah pagi buta. Shaleh menatap kosong di balkon. Selain itu juga ia masih ingin bertemu gadis itu. Mata Shaleh menangkap sosok yang berkerudung panjang berkeliling.        

     Dilihatnya gadis cantik itu. Shaleh melihat gadis itu memiliki tahi lalat di bawah mata kanannya. Saleh terkejut. Ia yakin gadis itu yang diharapkannya jumpa kembali. Shaleh mengambil kertas berwarna hijau di kelasnya, bekas tim mading kelas. Ia segera membentuk bangau kertas. Dan menulis sebuah kalimat di bawah sayapnya. Begitu gadis itu melintas di bawahnya, Shaleh menjatuhkan bangau itu.

Assalamualaikum. To: Habil
Suka warna hijau?
-secret admirer-


     Shaleh melihatnya dari sela-sela pembatas. ‘aku harap itu kamu, Habil.’ Shaleh tersenyum, di saat terakhirnya, Allah mengabulkan doanya.
  Shaleh melanjutkan kegiatan di sekolahnya. Ia masih berharap. Namun Shaleh menyadari bagaimana cara Habil membalas itu? ia yang tadi melihat di mana kelas Habil segera datang ke kelas Habil. Kebetulan kelas Habil mengikuti jam olahraga. Shaleh menaruh kapal terbang berwarna kuning.

Assalamualaikum. To: Habil
Bales ya? selip kertas balesan kamu di pohon rindang di deket kantin
-secret admirer-

Tes, darah segar mengalir dari hidung Shaleh. Wajahnya sedikit pucat. Tapi hari ini, Shaleh bersemangat, berharap Habil membalasnya. Sedikit mempercepat langkahnya, ia menemukan kertas yang terselip.

Waalaikumussalam. To: Bangau Kertas
Ya, aku suka.
-Habil-

     Dia Habil! Matanya berkaca-kaca. Gadis itu.. ia menemukannya.

     ‘Dia menjuluki aku bangau kertas?’ Gumam Shaleh dalam hatinya. Siang harinya Shaleh menjatuhkan kembali bangau kertas itu, yang menjadi alat komunikasi dengannya.

Assalamualaikum. To: Habil
Kenapa?
-secret admirer-

     Di lihatnya Habil tertawa. Habil pun belum pernah menengok ke atasnya hingga Shaleh bebas memperhatikannya. Namun lagi-lagi darah keluar dari hidungnya, jatuh menetes ke bawah. 

     Syukurnya Habil sudah berlalu selangkah. Shaleh menahannya. Ia ingin memantapkan hati untuk percaya bahwa Allah mengabulkan satu doanya yang cukup lama ia pinta.

   “Shaleh kamu gak apa-apa? UKS aja yuk” Ajak teman kelasnya. Shaleh menggeleng. Saat bel pulang ia segera Stand By menunggu Habil. Lagi-lagi Shaleh mimisan. Kepalanya pun sangat sakit sekali. ia menjatuhkannya saat Habil melintas. Namun Shaleh segera turun karena sakitnya sudah luar biasa. Shaleh berpapasan dengan Habil yang sedang mendongak ke atas, karena Habil mulai penasaran dengan Shaleh. Sementara Shaleh menunduk menyembunyikan kondisinya.

     Ibunya yang sudah menunggu menjemput kaget sekaligus khawatir meliat Shaleh sudah lemah. Ibu Shaleh segera membawa Shaleh ke rumah sakit. Shaleh diistirahatkan dan diperiksa keadaannya. Dokter menggeleng. Kanker itu semakin mengganas. Shaleh harus menjalani pengobatan di rumah sakit. Tapi Shaleh menolak. Shaleh tau tak seorang manusia bisa menjamin nyawa seseorang. Shaleh ingin dirawat di rumah saja.

    Semakin hari sakit itu semakin menyiksa. Shaleh membuat banyak bangau kertas. Beberapa ia layangkan kepada Habil. Shaleh ingin membuat 1000 bangau kertas. Ia mempunyai 1000 harapan. Yang utamanya ia ingin Allah memperpanjang nafasnya. Shaleh senang juga sedih. Disatu sisi ia dipertemukan kembali dengan gadis yang menyemangatinya dulu, namun disatu sisi ia juga akan meninggalkannya. Shaleh sudah mempersiapkan sebuah pesan yang akan ia berikan jika Allah panggil lebih cepat. Di sela-sela ia melipat kertas-kertas itu, hatinya teriris. Berharap Allah mengabulkan juga harapannya untuk tetap hidup lebih lama. Terkadang Shaleh menjerit dalam hatinya.

     ‘Ya Allah.. aku ingin hidup lebih lama!!!’

   Shaleh tadinya ingin memberi hadiah terakhir untuk Habil. Ia mencoba nyanyi namun ia sadar suaranya tak seindah Ariel NOAH. Ia akhirnya memutuskan untuk membuat pesan terakhir di sebuah bangau kertas yang istimewa.
   Shaleh semakin tak menentu. Untuk berjalanpun sulit. Shaleh takut jika hari ini sudah berakhir untuknya. Dengan tangan bergetar ia menulis pesan untuk Habil. Ia menjatuhkan bangau kertas itu. bersamaan dengan itu, Shaleh terjatuh dan pingsan. Pihak sekolah segera menghubungi keluarga dan Shaleh segera di larikan ke rumah sakit.

Habil.. Jaga dirimu baik-baik. Carilah Pria yang baik juga untukmu. Tetap jaga ibadahmu. Ingatlah diriku, Si Bangau Kertasmu. Your secret admirer.
Sertakan aku dalam setiap Doamu. Aku mencintaimu.. sangat mencintaimu.
-Bangau Kertas-

***

    Shaleh koma selama 3 hari. Kabar Shaleh koma sudah diterima pihak sekolah. Setelah sadar, Shaleh menangis. Mulutnya tak bisa ia gerakkan untuk berbicara. Ia menulis semua perasaannya. Untuk Ibunya, ayahnya, keluarganya, juga untuk Habil. Shaleh meminta beberapa kertas warna-warni. Ia tetap ingin berharap walau rasanya sudah tak mungkin. Shaleh terus menitikkan air matanya. Hingga hari ke 2 Shaleh sadar, Shaleh yang sedang sendirian keadaannya mulai kembali kritis setengah sadar ia menyelesaikan bangaunya yang ke 1000. Shaleh kembali koma.

     Dalam mimpinya, banyak hal yang indah yang tak ingin di tinggalkan. Di tempat sunyi itu Shaleh berteriak. Ia tetap ingin hidup lebih lama.
    Lusanya, Shaleh menemukan sebuah pintu yang sangat bersinar. Jerit tangis Ibunya tak membuat Shaleh menghentikan keinginannya untuk memasuki pintu itu.
    Tepat 06 februari 2004, Shaleh pergi dengan damai. Bangau spesial itu jatuh lebih cepat ke tangan Habil.


To: Habil
Assalamualaikum Habil..
Ini tulisan terakhirku.
Sungguh, namamu ku selipkan di setiap doaku.
Aku belajar banyak darimu.
Habil..
Waktu tak mengizinkan ku bernafas lebih lama.
Sungguh, Hanya Habil wanita yang ku cintai hingga detik ini..
Kau orang lain pertama yang masuk di hatiku.
Habil..
Apa kamu memiliki perasaan terhadapku?
Akankan kamu merindukan bangau-bangau dariku?
Kubuat kan kamu 1000 bangau.
1000 bangau itu harapanku untuk hidup..
Jika bangau hijau ini sampai di tanganmu.
Mungkin sesuatu telah terjadi padaku.
Habil, terimakasih mengizinkanku untuk mencintaimu..
-Bangau Kertas-



Bangau Kertas 1


Assalamualaikum Wr Wb..

Halo semua! Malam ini aku mau membagikan sebuah cerpen karya aku sendiri!! Selamat membaca! maaf ya kalau banyak kesalahan karena aku masih penulis pemula pastinya banyak Typonya. Happy Reading!! 


      Segarnya angin pagi menerpa wajah seorang gadis SMA ber-rok panjang. Kulit putihnya memantulkan kembali cahaya pagi. Embun-embun yang masih tersisa di dedaunan pun menyegarkan hawa pagi hari. Semua makhluk seolah ingin menyapa Habil, gadis cantik berhijab syar’i itu. Meski pakaiannya sudah sederhana, orang-orang akan menyukainya, terutama kaum pria. Habil yang sederhana itu terlihat anggun dan selalu berseri.




      Habil seorang gadis yang cerdas, ramah, dan baik hati. Tak ada satupun orang yang membenci Habil. Meski baru seminggu ia sekolah di sekolah baru, Habil sudah sangat terkenal. Tapi Habil tetap menjadi Habil.
      Meski ini terlalu pagi, Habil tak mengeluh seperti anak remaja yang lainnya. No Reason! Itu hanya kebiasaan Habil. Jika anak lain berangkat pagi untuk mengerjakan tugas, tidak dengan Habil.
Hatinya begitu tentram melihat kuasa Allah. Tetumbuhan hijau nan segar. Pemandangan kesukaan Habil. Karena selalu kepagian, Habil berkeliling sekolah melihat-lihat. Tiba-tiba sesuatu terjatuh tepat di atas kepala Habil. Sebuah bangau kertas berwarna hijau. Terdapat tulisan di bangau itu.

Assalamualaikum. To: Habil
Suka warna hijau?
-secret admirer-

      ‘Secret admirer?’ Tanya Habil dalam hatinya. Dari semua pengagum rahasianya, hanya si secret admirer ini menggunakan cara paling kreatif: Bangau Kertas.
      ‘Hijau? Aku suka’ Gumam Habil dalam hatinya.
      “Habiiiil!!!!” Seseorang berteriak memanggil namanya saat Habil berniat ke kelas atas mencari tau secret admirer ini.
      “Ini gimana caranya? Semaleman aku kerjain gak bisa-bisa” Ucap teman Habil. Sambil mengobrol mereka kembali ke kelas. Orang yang menjatuhkan bangau itu tersenyum.
      Pagi sejuk berganti dengan siang panas, seolah-olah hendak menjadikan bumi menjadi matahari ke dua. Seusai Habil Shalat di masjid, sebuah kapal terbang dari kertas berwarna kuning mendarat di meja Habil.

Assalamualaikum. To: Habil
Bales ya? selip kertas balesan kamu di pohon rindang di deket kantin
-secret admirer-
      ‘Secret admirer yang tadi pagi?’ Tanya Habil dalam hati.
      “Ciyee apaan tuh secret admirer” Goda nindi teman dekat Habil.
      “Gak tau” Jawab Habil singkat. Tapi hatinya nggak sesingkat itu.
      Esok harinya Habil membalas.. bangau kertas itu dan menyelipkannya di tempat yang sudah di tentukan. Habil mencoba untuk tidak penasaran dengan Si Bangau Kertas itu.
Waalaikumussalam. To: Bangau Kertas
Ya, aku suka.
-Habil-
      Namun sepertinya cerita Bangau Kertas ini tak sesingkat itu. Siang hari setelah Shalat Dzuhur Bangau itu jatuh kembali. Habil menghela nafas.
      ‘Pasti Si Bangau Kertas’ Fikirnya.
Assalamualaikum. To: Habil
Kenapa?
-secret admirer-
      Habil tertawa kecil. Untuk sebuah alasan yang tak bisa digambarkan. Habil membawa Bangau itu ke kelas.  Dan Habil merasa tertarik sekarang.
      Sepulang sekolah, kelasnya memang melewati kelas 11. Kelas Si Bangau Kertas.  Habil membetulkan simpul tali sepatunya yang terlepas. Pluk. Sebuah Bangau kertas jatuh. Habil meraihnya dan mendongak ke atas. Tak ada yang bisa Habil tebak siapa Bangau Kertas itu.
Hati-hati pulangnya.
-Bangau Kertas-
      Habil tertawa kecil. ‘Bangau kertas.. siapa dia?’ Fikir Habil sepanjang jalan. Habil mencium Bangau itu dan harum. Wewangiannya lembut hingga Habil langsung menyukainya.
Gadis itu merenung. Ingin hari segera berganti. Habil ingin segera mengirim balasannya. Bahkan Habil datang lebih pagi dari sebelumnya.
Warna yang disukai Rasulullah.
-Habil-
      Dan bangau itu terjatuh lagi.
Kamu anggun sekali Habil. Aku menyukaimu.
-Bangau Kertas-
      Habil tersenyum. Ia segera menyimpannya di tas. Semenjak saat itu, 3 kali dalam sehari bangau itu seperti berterbangan. Sudah 10 hari di siang hari.
Habil, jika aku masih bisa menatap langit, izin kan aku menatapmu
-Bangau Kertas-
Kau Cinta pertamaku, akankah menjadi satu-satunya?
-Bangau Kertas-
Kini aku mencintaimu karena Allah. Seandainya umur kita masih ada, ku harap engkaulah jodohku
-Bangau Kertas-
Habil, jaga dirimu dari Para Pria yang mendekatimu. Sungguh..
-Bangau Kertas-
      Dan banyak lagi. Demi menghargainya, Habil menyimpan bangau-bangau warna-warni itu. Dan siang ini genap 31 bangau di tambah bangau pertamanya. Bangau hari ini:
Habil.. Jaga dirimu baik-baik. Carilah Pria yang baik juga untukmu. Tetap jaga ibadahmu. Ingatlah diriku, Si Bangau Kertasmu. Your secret admirer.
Sertakan aku dalam setiap Doamu. Aku mencintaimu.. sangat mencintaimu.
-Bangau Kertas-
      Dan kini, sudah 3 hari berlalu tanpa bangau-bangau. Habil merindukan  Bangau itu, juga kalimat-kalimatnya. Kemanakah Bangau Kertas itu? Habil mengirim pesan yang di selipkan di tempat itu.
Assalamualaikum. To: Bangau Kertas.
Kenapa Bangau Kertas tak jatuh lagi?
-Habil-
      Esok harinya Habil berharap kertas bangau warna warni itu jatuh di kepalanya lagi. Namun itu hanya harapan. Habil berlari menuju pohon pos penghubung dirinya dengan Si Bangau Kertas itu. Suratnya masih terselip. Habil menghela nafas kecewa.
To: Bangau Kertas.
Kamu kenapa? Aku merindukan Bangau Kertas.
      Dua hari sudah Habil menulis surat. Tak satupun tersentuh. Lima hari berlalu tanpa Bangau Kertas.
      ‘Dia kenapa sih?’ Entah kenapa Habil jadi kesal dan segera berlari ke kelas atas.
      “Permisi kak, um apa di kelas kakak ada temen kakak yang suka bikin bangau dari kertas?”
      “Iya ada, tapi sekarang dia sudah nggak masuk sekolah lima hari”
      “Kalau boleh tau dia siapa ya? terus kenapa gak sekolah?”
      “Namanya Sholeh. Dari kecil dia sudah mengidap penyakit kanker. Dan dia koma” Hati Habil bergejolak, seakan sesuatu hal tak ingin ia lepas. Sesuatu itu bernama sholeh, pria yang Habil akui sudah membuatnya jatuh hati meski tak pernah melihat wajahnya.
      “Rumah sakit mana kak?!”
      ***
      Habil menatap Sholeh dari luar. Wajahnya pucat pasi, selang banyak menempel di tubuhnya. Habil juga sudah bertemu orang tua Sholeh.
       “Sholeh anak umi. Tampan yang pendiam, ia tak punya harapan, sering kali ia telihat anti sosial. Terkadang umi bingung dan sedih melihat Sholeh lebih banyak terlihat putus asa dengan penyakitnya. Tapi akhir-akhir ini dia terlihat bersemangat. Wajahnya juga terlihat riang. Nak Habil, setiap hari Sholeh membuat bangau warna-warni. Umi gak pernah liat sholeh bernyanyi-nyanyi dalam kamarnya. Tapi..” uminya sholeh berhenti untuk menahan kesedihan. Habilpun. Ia benar-benar berharap Allah menyembuhkan Sholeh, Pria Bangau Kertas itu. Hati Habil kini tertambat pada pria itu.
      Tanggal 06 februari 2004, hari itu mendung dan hujan turun. Bel rumah Habil terdengar. Habil sendiri yang membukanya. Habil kaget melihat Umi Sholeh adalah tamunya.
      “Masuk umi, di luar hujan” Ucap Habil.
      “Umi ada apa?”
      “Nak, Sholeh.. dia pergi” Habil tercengang. Habil berusaha menahan dan meredam tangisnya. Bibir Habil bergetar.
      “Ini, titipan Sholeh buat Nak Habil” Umi memberikannya dengan terisak. Memberikan sekantung bangau kertas warna-warni.
      “Kata sholeh, jumlahnya ada 969”  Setelah itu, pecah sudah tangisan Habil juga umi. Keduanya larut kehilangan sosok Sholeh.
      ***
      Butuh waktu beberapa lama untuk merelakan Sholeh pergi. Habil menguatkan dirinya. Kini di kamar kecilnya Habil menggantung Bangau Kertas itu di langit-langit kamarnya. Banyak sekali tulisan-tulisan sholeh. Yang paling menarik adalah, bangau yang sekian banyak, hanya ada 2 warna berwarna hijau. Satu bangau untuk bangau pertama, dan bangau kedua bangau terakhir.
Ini Bangau terakhirnya:
To: Habil
Assalamualaikum Habil..
Ini tulisan terakhirku.
Sungguh, namamu ku selipkan di setiap doaku.
Aku belajar banyak darimu.
Habil..
Waktu tak mengizinkan ku bernafas lebih lama.
Sungguh, Hanya Habil wanita yang ku cintai hingga detik ini..
Kau orang lain pertama yang masuk di hatiku.
Habil..
Apa kamu memiliki perasaan terhadapku?
Akankan kamu merindukan bangau-bangau dariku?
Kubuat kan kamu 1000 bangau.
1000 bangau itu harapanku untuk hidup..
Jika bangau hijau ini sampai di tanganmu.
Mungkin sesuatu telah terjadi padaku.
Habil, terimakasih mengizinkanku untuk mencintaimu..
-Bangau Kertas-
      Habil meneteskan air matanya. Sholeh pria pertama yang ia cintai, sholeh pria pertama yang menyukainya karena Allah. Hati Habil begitu teiris membaca kalimat demi kalimat. Habil membalas pesan itu.
To: Bangau Kertas
Waalaikumussalam Sholeh..
Ini balasanku untukmu..
Sosok dirimu selalu ku doakan..
Aku juga banyak belajar darimu..
Bangau Kertas..
Ku harap Udara lebih banyak memasuki paru-parumu
Bangau kertas, engkau pria yang sanggup buat hatiku jatuh
Kau pria yang kucintai setelah ayah..
Bangau KertasKu..
Aku mencintaimu karena Allah..
Aku merindukan bangau-bangau darimu
Air mataku menetes lebih dari 1000 bangau mu
Air mata ini inginkan dirimu..
Bangau hijau ini, aku tak menyukainya..
Kenapa kamu tak pernah memberitahuku tentang dirimu?
Sholeh, terimakasih telah mencintaiku.. semoga kita berjodoh di syurga
-Habil-

      Habil membentuk pesannya menjadi Bangau Kertas. Dua bangau hijau itu ia gantung di jendelanya. Berbeda dengan 998 bangau yang ia pasang di langit-langit. Habil berharap bisa berjumpa dengan Sholeh nanti. Selamat tinggal Bangau Kertas-Ku!

-Tamat-