Pagi itu, ku beri kabar kepada orang di rumah bahwa aku akan pulang
pekan ini. Ku bereskan kembali kamar kosanku dan barang-barang yang akan ku
bawa.
“Aku berangkat dulu. Assalamualaikum!” Pamitku pada kedua teman kos ku.
“Iya Ya, hati-hati!” Balas mereka.
Sepanjang jalan, aku banyak melamunkan banyak hal, entah itu mimpiku,
rencana-rencanaku dan yang lainnya sembari memandangi dunia yang seolah-olah
bergerak. Ilusi yang indah di balik jendela mobil.
Lamunanku buyar saat ponselku bergetar. Terdapat sebuah pesan singkat
dari kakakku yang aku panggil Kak Mint. Menanyakan apa aku benar akan pulang
hari ini.
Jika boleh bercerita sedikit tentang kakakku ini, sebenarnya nama dia
bukan mint kok! Aku memanggilnya demikian karena dia sangat suka dengan bau
mint yang segar. Jadi aku menjuluki dia mint, dan dia tidak keberatan sama
sekali.
Berbeda denganku yang sangat keberatan di panggil Hotaru olehnya. Sangat
asing! Tapi mau menolak sekeras apapun juga dia takkan berubah.
Dengan tenang aku sampai di rumah. Mama sedang pergi ke rumah tetangga,
sementara ayah bekerja. Hanya ada Kak Mint yang sedang ambil cuti yang ada di
rumah.
Dia menyambutku dengan gembira dan sedikit berlebihan. Dia juga yang
membantuku mengangkut barang-barang yang aku bawa, padahal sebenarnya aku sama
sekali tidak kerepotan karena barang yang aku bawa tidak banyak.
Kak Mint keluar kamarku setelah membantuku dengan tergesa-gesa. Tak lama
kemudian dia kembali dan membawakan kue cokelat yang mungkin dia beli entah
kapan entah dimana.
“Jujur aja deh, ada apa?” Tanyaku curiga. Yang ditanya hanya nyengir.
“Dek! Masih inget gak sama Abu?”
“Tau, cowok yang kakak taksir dari zaman kuliah kan.” Jawabku sembari
memakan kue cokelat itu.
“Liat nih!” Teriaknya sambil menyodorkan ponselnya tepat di depan
mataku.
Ku lihat ponselnya dengan enggan dan malas. Ku baca dengan cepat yang
intinya bahwa si Abu meminta Kak Mint untuk menjalin hubungan dengannya.
“Yakin?” Tanyaku ragu. Sebab aku tahu betul orang yang disukai oleh
kakakku ini sama sekali bukan orang yang baik. Dia tipikal cowok brengsek kelas
teri.
“Gimana dong, kan kamu tau sendiri udah berapa lama coba aku nungguin
dia.”
“Ya udah terima aja.”
“Tapi..”
“Kalau ragu ya gak usah lah.”
“Menurut kamu kakak mesti gimana?”
“Menurut aku sih lupain aja.”
“Duh Dek gak segampang itu lah! Kakak tuh udah bertahun-tahun suka sama
dia!”
“Gini deh, biar gampang,” ku ambil ponsel Kak Mint untuk memastikan apa
yang ingin aku katakan.
“Abu itu bilang kalau dia baru sadar dengan besarnya rasa kakak itu,
terus selama ini dia bego atau pura-pura gak tau?”
“Ya mungkin dia ga sadar Dek, kan kakak juga diem-diem.”
“Setahuku sediem-diemnya seseorang sedang mencinta pasti yang dicinta
sadar, kecuali dia bodoh atau menolak untuk tau. Dan Abu ini tipe yang mana?”
“Oke lah aku anggap dia gak tahu, tapi gini. Ehem, apa dia minta maaf gitu karena dia sama sekali ga nyadar?”
Kak Mint menatap layar ponselnya dan menjawab, “Nggak.”
Akhirnya kami berdebat panjang. Kak Mint dengan cinta butanya dan aku
yang berusaha menyadarkannya. Sampai akhirnya kami terdiam satu sama lain.
“Kamu gak suka banget ya sama Abu?”
“Iya.” Jawabku singkat.
“Kenapa?”
Kalau sudah ditanya begitu mau gimana lagi? Aku pun menyerahkan
ponselku, memperlihatkan balon-balon chat textku dengan Abu yang memintaku
untuk menjalin hubungan persis di tanggal yang sama dengan Kak Mint.
“Kok kamu bisa kenal sama dia?”
“Kemaren ada pas ada acara di kampus dia ada, nemenin temennya.”
Kak Mint mengotak-atik ponselku setelah tertegun sesaat. Rupanya dia
menelpon Abu dan memakinya habis-habisan.
“Puas?” Tanyaku setelah telpon ditutup.
“Dasar gila tuh cowok emang.”
Tak lama kemudian, terdengar suara salam dari luar rumah. Kak Mint
segera bergegas keluar.
Aku pun berpikir, apakah itu cinta jika jatuh dan membutakan seperti
halnya yang dialami Kak Mint? Bukankah cinta membuat kita nyaman dan sadar akan
dunia? Entahlah, karena aku tidak pernah merasakannya.
Kak Mint kembali masuk ke kamarku sembari membawa sebuah kotak yang
berukuran biasa.
“Paket?”
“Nggak, ini di kasih Grey. Padahal aku gak serius bilang pengen
cokelat.” Jawabnya santai sembari mengulum cokelat itu. Aku hanya menggeleng
lemah.
‘Dasar, dia emang bodoh.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar