MIndset Itu Memang Berbahaya

     Kemarin saya menceritakan beberapa keinsecurean dalam diri saya. Jika dipikirkan kembali dan dibaca, rasanya saya jadi malu menyimpan hal-hal seperti itu.

    Saya membaca sebuah buku yang menyadarkan satu hal penting. Ketakutan-ketakutan karena takutnya penolakan akan sebuah lingkungan itu memang apa sih resikonya?

      Misalkan saya sangat gugup jika berbicara di depan umum, sampai-sampai lutut saya bergetar dan ingin copot. Padahal jika dipikir-pikir, memang apa yang orang lain pikirkan? penampilan saya? bau badan saya? tidak sama sekali!

     Atau mereka benar-benar memperhatikan apa yang ingin kita sampaikan, dan kita khawatir ada yang salah sehingga setelah acara berakhir ada beberapa orang yang membicarakan saya di belakang. Ya terus apa gitu? toh saya tidak tahu, saya juga bukan manusia sempurna, pasti ada kesalahan sekeras apapun saya mencoba agar saya tidak memiiki celah.

     Kita hanya melakukan kesalahan, kesalahan itulah yang menjadi bahan evaluasi agar kita tidak melakukan kesalahan di masa mendatang. Kita memperbaiki hal tersebut ya nggak sih?

   Kekhawatiran ini justru membesar jika saya terus-terusan menghindarinya, membuat saya cenderung menjadi manusia pasif, iri dan dengki. Saya tidak pernah puas atas pencapaian-pencapaian yang saya raih. Saya haus akan kesempurnaan, dan saya akan sangat depresi ketika semua itu hanyalah angan-angan saja.

      Saya menjadi sosok yang mencari eksistensi dan pengakuan orang lain berupa pujian. Saya bersikap bukan seperti saya.

      Sebagai contoh kecil, saya sangat senang mengejar nilai. Jika saya dipuji karena otak saya, percayalah semerendah apapun saya di depan kalian, saya tersenyum kemenangan. Tapi saya tidak pernah puas. Saya menjadi serakah. Saya harus berpura-pura pintar demi image bias. Pendiam, pemalu, apa ini? sok-sokan membaca buku di depan umum hanya agar saya mendapat satu kata: "Rajin amat belajar mulu!" Padahal buku kecil saya hanya berisi daftar-daftar anime yang ingin saya baca atau ingin saya tonton.

      Saya tidak mau bertanya di kelas hanya karena saya berpikir pertanyaan saya remeh sekali. Padahal saya benar-benar ingin tahu itu.

        Pada akhirnya saya hidup untuk mencari pengakuan orang lain, saya hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain terhadap saya. Membuat saya benci dianggap bodoh. Padahal memang saya bodoh, dan saya harus mengakuinya, bukan terus menyangkal dan cuma ingin mendapat pujian dari orang lain. 

         Pengakuan akan kelemahan sendiri mendorong kita untuk berproses menjadi lebih baik. Kita bertumbuh karena memang melewati level-level yang sebelumnya kita dapatkan dengan pujian, bukan melawan tantangan.

        Saya ingin mencoba menerima bahwa saya itu gini, saya itu anu. Sehingga saya tidak perlu khawatir tentang pemikiran orang lain terhadap saya. Saya gini apa adanya gitu.

          Dan perkataan saya tadi bukan berarti saya meremehkan beban mental orang lain. Tapi saya hanya menuliskan hasil setelah saya berdialog dengan diri saya sendiri.
       

2 komentar: