Namaku Amaya Hotaru. Nama yang Jepang banget gak sih? Entahlah, itu
pemberian dari kedua orang tuaku. Awalnya sih aku agak gimana gitu dengan nama
ini. Mungkin karena pengaruh teman-temanku yang selalu bilang bahwa namaku ini
sok Jepang, akhirnya aku pun ikut tidak suka dengan namaku sendiri.
Namun setelah aku remaja, aku sadar namaku sendiri memiliki arti yang
sangat dalam. Kata mama sih, Amaya artinya langit malam, sementara Hotaru itu
artinya kunang-kunang.
“Kenapa harus kunang-kunang? Kenapa nggak bintang atau apa gitu?”
Tanyaku yang penasaran saat itu.
“Karena ibaratnya cahaya pada kunang-kunang itu ilmu, ilmu itu bisa
membantu orang lain, ilmu itu bisa menyelamatkan hidup kamu, ilmu itu cahaya di
langit malam.” Jawab Mama santai.
“Ya kenapa gak bintang aja Ma? Kan bintang juga bercahaya?”
“Hmm.. kenapa ya? Karena kunang-kunang itu kecil. Kamu gak perlu besar
untuk menyinari banyak orang, cukup untuk orang-orang di sekitar kamu. Berbuat
baik untuk hal kecil, tidak perlu menampakkan kalau kamu membantu.”
Ya kira-kira seperti itu jawabannya. Intinya namaku itu harapan besar
dengan cara yang paling sederhana. Saat aku mengerti, aku pun langsung merasa
bangga dengan nama yang aku miliki ini. Ya walaupun nama panggilanku itu ya,
Aya, bukan Hotaru.
Itu yang terjadi saat aku SMA. Sekarang aku adalah mahasiswi di salah
satu perguruan tinggi swasta. Aku kehilangan banyak kepercayaan diriku untuk
menjadi kunang-kunang itu sendiri. Aku mungkin terlihat tegar tatkala memandang
jauh Mama dan Papa yang akan pulang setelah mengantar. Tapi percayalah, seingin
apapun aku bebas, tetap saja aku akan kalah dengan rasa takutku. Bagaimana aku bisa
bertahan?
Di kosanku sendiri aku sudah memiliki teman, yang entah mereka bisa
cepat mengakrabkan diri denganku, padahal aku sendiri masih canggung dekat
mereka. Di sela-sela pembicaraan mereka aku hanya diam, sejujurnya bukan karena
aku tidak ingin bergabung dengan mereka, tapi aku sendiri nggak tahu apa yang
mereka sedang bicarakan.
Aku juga tidak mengerti bagaimana mereka dengan mudahnya bilang bahwa
mereka sudah cocok meski baru kenal. Apa aku tidak salah? Atau bagaimana?
Mereka bahkan belum tahu kejelekkan masing-masing, bagaimana jika salah satu
dari mereka mulai menampakkannya?
Pertanyaanku segera dijawab oleh waktu, bahkan jika aku tidak bertanya
pun, waktu akan menunjukkannya. Salah satu dari mereka mulai terlihat
keburukannya. Ramailah mereka berkata yang jelek tentang dia. Tapi ya yang
namanya juga manusia, ada kalanya sesi ‘jujur-jujuran’. Setelah jujur-jujuran,
kena lah yang menjelek-jelekkan orang yang sebelumnya. Begitu siklusnya, takkan
terputus hingga mereka bisa memaafkan satu sama lain dan melupakan apa yang terjadi.
Lalu aku bagaimana? Aku hanya pihak yang mendengarkan dan menyarankan di
kedua belah pihak. Terlihat sangat muka dua, ke sana iya, ke sini iya. Memang
aku harus bagaimana jika mau bersikap netral saja? Masalah mereka tidak ada
sangkut pautnya dengan kehidupanku, kecuali mereka adalah orang yang dekat
denganku, aku tak masalah jika begitu.
Akhirnya aku memutuskan untuk pindah kosan karena suasananya bukan
suasana milikku. Aku mengajak salah satu teman kelasku untuk ngekos bersama.
Alasannya bukan karena aku dekat dengan dia, tapi karena tempat kos baruku itu
sendiri akan lebih murah jika tinggal bersama teman. Kami bertiga cukup untuk
saling mengisi ruang di kamar yang luas tersebut.
Pada suatu kesempatan aku bisa mengobrol dengan teman kosan lamaku. Dari
ceritanya, dia ingin pindah. Tapi bukan hal itu yang membuatku kesal, tapi
cerita bagaimana penjaga kosan dulu ‘mengata-ngatai’ aku sejak aku pindah.
Subhanallah, beruntungnya aku segera pindah dari sana. Namun saat itu
aku yang tersulut ikut bercerita buruk tentang yang lainnya.
Ya mau bagaimana lagi? Karena itu kan aku? Aku yang orang biasa yang
bisa marah saat dijelek-jelekkan saat aku berusaha menutupi yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar