Kamis, 14 Maret 2019

Bangau Kertas 1


Assalamualaikum Wr Wb..

Halo semua! Malam ini aku mau membagikan sebuah cerpen karya aku sendiri!! Selamat membaca! maaf ya kalau banyak kesalahan karena aku masih penulis pemula pastinya banyak Typonya. Happy Reading!! 


      Segarnya angin pagi menerpa wajah seorang gadis SMA ber-rok panjang. Kulit putihnya memantulkan kembali cahaya pagi. Embun-embun yang masih tersisa di dedaunan pun menyegarkan hawa pagi hari. Semua makhluk seolah ingin menyapa Habil, gadis cantik berhijab syar’i itu. Meski pakaiannya sudah sederhana, orang-orang akan menyukainya, terutama kaum pria. Habil yang sederhana itu terlihat anggun dan selalu berseri.




      Habil seorang gadis yang cerdas, ramah, dan baik hati. Tak ada satupun orang yang membenci Habil. Meski baru seminggu ia sekolah di sekolah baru, Habil sudah sangat terkenal. Tapi Habil tetap menjadi Habil.
      Meski ini terlalu pagi, Habil tak mengeluh seperti anak remaja yang lainnya. No Reason! Itu hanya kebiasaan Habil. Jika anak lain berangkat pagi untuk mengerjakan tugas, tidak dengan Habil.
Hatinya begitu tentram melihat kuasa Allah. Tetumbuhan hijau nan segar. Pemandangan kesukaan Habil. Karena selalu kepagian, Habil berkeliling sekolah melihat-lihat. Tiba-tiba sesuatu terjatuh tepat di atas kepala Habil. Sebuah bangau kertas berwarna hijau. Terdapat tulisan di bangau itu.

Assalamualaikum. To: Habil
Suka warna hijau?
-secret admirer-

      ‘Secret admirer?’ Tanya Habil dalam hatinya. Dari semua pengagum rahasianya, hanya si secret admirer ini menggunakan cara paling kreatif: Bangau Kertas.
      ‘Hijau? Aku suka’ Gumam Habil dalam hatinya.
      “Habiiiil!!!!” Seseorang berteriak memanggil namanya saat Habil berniat ke kelas atas mencari tau secret admirer ini.
      “Ini gimana caranya? Semaleman aku kerjain gak bisa-bisa” Ucap teman Habil. Sambil mengobrol mereka kembali ke kelas. Orang yang menjatuhkan bangau itu tersenyum.
      Pagi sejuk berganti dengan siang panas, seolah-olah hendak menjadikan bumi menjadi matahari ke dua. Seusai Habil Shalat di masjid, sebuah kapal terbang dari kertas berwarna kuning mendarat di meja Habil.

Assalamualaikum. To: Habil
Bales ya? selip kertas balesan kamu di pohon rindang di deket kantin
-secret admirer-
      ‘Secret admirer yang tadi pagi?’ Tanya Habil dalam hati.
      “Ciyee apaan tuh secret admirer” Goda nindi teman dekat Habil.
      “Gak tau” Jawab Habil singkat. Tapi hatinya nggak sesingkat itu.
      Esok harinya Habil membalas.. bangau kertas itu dan menyelipkannya di tempat yang sudah di tentukan. Habil mencoba untuk tidak penasaran dengan Si Bangau Kertas itu.
Waalaikumussalam. To: Bangau Kertas
Ya, aku suka.
-Habil-
      Namun sepertinya cerita Bangau Kertas ini tak sesingkat itu. Siang hari setelah Shalat Dzuhur Bangau itu jatuh kembali. Habil menghela nafas.
      ‘Pasti Si Bangau Kertas’ Fikirnya.
Assalamualaikum. To: Habil
Kenapa?
-secret admirer-
      Habil tertawa kecil. Untuk sebuah alasan yang tak bisa digambarkan. Habil membawa Bangau itu ke kelas.  Dan Habil merasa tertarik sekarang.
      Sepulang sekolah, kelasnya memang melewati kelas 11. Kelas Si Bangau Kertas.  Habil membetulkan simpul tali sepatunya yang terlepas. Pluk. Sebuah Bangau kertas jatuh. Habil meraihnya dan mendongak ke atas. Tak ada yang bisa Habil tebak siapa Bangau Kertas itu.
Hati-hati pulangnya.
-Bangau Kertas-
      Habil tertawa kecil. ‘Bangau kertas.. siapa dia?’ Fikir Habil sepanjang jalan. Habil mencium Bangau itu dan harum. Wewangiannya lembut hingga Habil langsung menyukainya.
Gadis itu merenung. Ingin hari segera berganti. Habil ingin segera mengirim balasannya. Bahkan Habil datang lebih pagi dari sebelumnya.
Warna yang disukai Rasulullah.
-Habil-
      Dan bangau itu terjatuh lagi.
Kamu anggun sekali Habil. Aku menyukaimu.
-Bangau Kertas-
      Habil tersenyum. Ia segera menyimpannya di tas. Semenjak saat itu, 3 kali dalam sehari bangau itu seperti berterbangan. Sudah 10 hari di siang hari.
Habil, jika aku masih bisa menatap langit, izin kan aku menatapmu
-Bangau Kertas-
Kau Cinta pertamaku, akankah menjadi satu-satunya?
-Bangau Kertas-
Kini aku mencintaimu karena Allah. Seandainya umur kita masih ada, ku harap engkaulah jodohku
-Bangau Kertas-
Habil, jaga dirimu dari Para Pria yang mendekatimu. Sungguh..
-Bangau Kertas-
      Dan banyak lagi. Demi menghargainya, Habil menyimpan bangau-bangau warna-warni itu. Dan siang ini genap 31 bangau di tambah bangau pertamanya. Bangau hari ini:
Habil.. Jaga dirimu baik-baik. Carilah Pria yang baik juga untukmu. Tetap jaga ibadahmu. Ingatlah diriku, Si Bangau Kertasmu. Your secret admirer.
Sertakan aku dalam setiap Doamu. Aku mencintaimu.. sangat mencintaimu.
-Bangau Kertas-
      Dan kini, sudah 3 hari berlalu tanpa bangau-bangau. Habil merindukan  Bangau itu, juga kalimat-kalimatnya. Kemanakah Bangau Kertas itu? Habil mengirim pesan yang di selipkan di tempat itu.
Assalamualaikum. To: Bangau Kertas.
Kenapa Bangau Kertas tak jatuh lagi?
-Habil-
      Esok harinya Habil berharap kertas bangau warna warni itu jatuh di kepalanya lagi. Namun itu hanya harapan. Habil berlari menuju pohon pos penghubung dirinya dengan Si Bangau Kertas itu. Suratnya masih terselip. Habil menghela nafas kecewa.
To: Bangau Kertas.
Kamu kenapa? Aku merindukan Bangau Kertas.
      Dua hari sudah Habil menulis surat. Tak satupun tersentuh. Lima hari berlalu tanpa Bangau Kertas.
      ‘Dia kenapa sih?’ Entah kenapa Habil jadi kesal dan segera berlari ke kelas atas.
      “Permisi kak, um apa di kelas kakak ada temen kakak yang suka bikin bangau dari kertas?”
      “Iya ada, tapi sekarang dia sudah nggak masuk sekolah lima hari”
      “Kalau boleh tau dia siapa ya? terus kenapa gak sekolah?”
      “Namanya Sholeh. Dari kecil dia sudah mengidap penyakit kanker. Dan dia koma” Hati Habil bergejolak, seakan sesuatu hal tak ingin ia lepas. Sesuatu itu bernama sholeh, pria yang Habil akui sudah membuatnya jatuh hati meski tak pernah melihat wajahnya.
      “Rumah sakit mana kak?!”
      ***
      Habil menatap Sholeh dari luar. Wajahnya pucat pasi, selang banyak menempel di tubuhnya. Habil juga sudah bertemu orang tua Sholeh.
       “Sholeh anak umi. Tampan yang pendiam, ia tak punya harapan, sering kali ia telihat anti sosial. Terkadang umi bingung dan sedih melihat Sholeh lebih banyak terlihat putus asa dengan penyakitnya. Tapi akhir-akhir ini dia terlihat bersemangat. Wajahnya juga terlihat riang. Nak Habil, setiap hari Sholeh membuat bangau warna-warni. Umi gak pernah liat sholeh bernyanyi-nyanyi dalam kamarnya. Tapi..” uminya sholeh berhenti untuk menahan kesedihan. Habilpun. Ia benar-benar berharap Allah menyembuhkan Sholeh, Pria Bangau Kertas itu. Hati Habil kini tertambat pada pria itu.
      Tanggal 06 februari 2004, hari itu mendung dan hujan turun. Bel rumah Habil terdengar. Habil sendiri yang membukanya. Habil kaget melihat Umi Sholeh adalah tamunya.
      “Masuk umi, di luar hujan” Ucap Habil.
      “Umi ada apa?”
      “Nak, Sholeh.. dia pergi” Habil tercengang. Habil berusaha menahan dan meredam tangisnya. Bibir Habil bergetar.
      “Ini, titipan Sholeh buat Nak Habil” Umi memberikannya dengan terisak. Memberikan sekantung bangau kertas warna-warni.
      “Kata sholeh, jumlahnya ada 969”  Setelah itu, pecah sudah tangisan Habil juga umi. Keduanya larut kehilangan sosok Sholeh.
      ***
      Butuh waktu beberapa lama untuk merelakan Sholeh pergi. Habil menguatkan dirinya. Kini di kamar kecilnya Habil menggantung Bangau Kertas itu di langit-langit kamarnya. Banyak sekali tulisan-tulisan sholeh. Yang paling menarik adalah, bangau yang sekian banyak, hanya ada 2 warna berwarna hijau. Satu bangau untuk bangau pertama, dan bangau kedua bangau terakhir.
Ini Bangau terakhirnya:
To: Habil
Assalamualaikum Habil..
Ini tulisan terakhirku.
Sungguh, namamu ku selipkan di setiap doaku.
Aku belajar banyak darimu.
Habil..
Waktu tak mengizinkan ku bernafas lebih lama.
Sungguh, Hanya Habil wanita yang ku cintai hingga detik ini..
Kau orang lain pertama yang masuk di hatiku.
Habil..
Apa kamu memiliki perasaan terhadapku?
Akankan kamu merindukan bangau-bangau dariku?
Kubuat kan kamu 1000 bangau.
1000 bangau itu harapanku untuk hidup..
Jika bangau hijau ini sampai di tanganmu.
Mungkin sesuatu telah terjadi padaku.
Habil, terimakasih mengizinkanku untuk mencintaimu..
-Bangau Kertas-
      Habil meneteskan air matanya. Sholeh pria pertama yang ia cintai, sholeh pria pertama yang menyukainya karena Allah. Hati Habil begitu teiris membaca kalimat demi kalimat. Habil membalas pesan itu.
To: Bangau Kertas
Waalaikumussalam Sholeh..
Ini balasanku untukmu..
Sosok dirimu selalu ku doakan..
Aku juga banyak belajar darimu..
Bangau Kertas..
Ku harap Udara lebih banyak memasuki paru-parumu
Bangau kertas, engkau pria yang sanggup buat hatiku jatuh
Kau pria yang kucintai setelah ayah..
Bangau KertasKu..
Aku mencintaimu karena Allah..
Aku merindukan bangau-bangau darimu
Air mataku menetes lebih dari 1000 bangau mu
Air mata ini inginkan dirimu..
Bangau hijau ini, aku tak menyukainya..
Kenapa kamu tak pernah memberitahuku tentang dirimu?
Sholeh, terimakasih telah mencintaiku.. semoga kita berjodoh di syurga
-Habil-

      Habil membentuk pesannya menjadi Bangau Kertas. Dua bangau hijau itu ia gantung di jendelanya. Berbeda dengan 998 bangau yang ia pasang di langit-langit. Habil berharap bisa berjumpa dengan Sholeh nanti. Selamat tinggal Bangau Kertas-Ku!

-Tamat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar