“Kamu sakit ya?” Tanya seorang gadis kecil dengan potongan rambut pendek di sebuah rumah sakit besar. Yang ditanyapun hanya diam tertunduk lesu. Gadis itu menyobek kertas dan melipatnya. Anak lelaki yang tadinya tidak tertarik itu memperhatikannya. Gadis itu menyodorkan sebuah bangau kertas kepadanya.
“Jangan patah semangat ya!” Ucap gadis itu dengan riang, membuat anak lelaki itu tersenyum. Di atas sayap itu terdapat nama gadis itu. Habil.
“Shaleh! Bangun nak! Yuk Shalat Subuh!” Ternyata tadi hanyalah mimpi. Mimpi yang sebenarnya cuplikan dari sebuah kenangan yang tersimpan dalam memori Shaleh. Shaleh bangun dan mengusap wajah ngantuknya. Ia masih saja ingat dengan kejadian itu. Meski yang masih ia ingat dari gadis itu adalah tahi lalat di bawah mata kanannya. Namun karena gadis itulah Shaleh berjuang melawan kankernya. Sejauh ini ia masih hidup.
Sudah seminggu Shaleh tidak masuk sekolah, karena ia melakukan pengobatan. Ia juga masih ingat dokter berkata hidupnya takkan bertahan sampai 1 bulan. Shaleh pasrah, meski dalam hatinya ia tak mau kehilangan seluruh titipanNya. Seperti Ibunya yang selalu menemaninya setiap Shaleh berobat, atau ayahnya yang tak pernah berhenti shalat malam.
Hari itu ia datang ke sekolah pagi buta. Shaleh menatap kosong di balkon. Selain itu juga ia masih ingin bertemu gadis itu. Mata Shaleh menangkap sosok yang berkerudung panjang berkeliling.
Dilihatnya gadis cantik itu. Shaleh melihat gadis itu memiliki tahi lalat di bawah mata kanannya. Saleh terkejut. Ia yakin gadis itu yang diharapkannya jumpa kembali. Shaleh mengambil kertas berwarna hijau di kelasnya, bekas tim mading kelas. Ia segera membentuk bangau kertas. Dan menulis sebuah kalimat di bawah sayapnya. Begitu gadis itu melintas di bawahnya, Shaleh menjatuhkan bangau itu.
Assalamualaikum. To: Habil
Suka warna hijau?
-secret admirer-
Shaleh melihatnya dari sela-sela pembatas. ‘aku harap itu kamu, Habil.’ Shaleh tersenyum, di saat terakhirnya, Allah mengabulkan doanya.
Shaleh melanjutkan kegiatan di sekolahnya. Ia masih berharap. Namun Shaleh menyadari bagaimana cara Habil membalas itu? ia yang tadi melihat di mana kelas Habil segera datang ke kelas Habil. Kebetulan kelas Habil mengikuti jam olahraga. Shaleh menaruh kapal terbang berwarna kuning.
Assalamualaikum. To: Habil
Bales ya? selip kertas balesan kamu di pohon rindang di deket kantin
-secret admirer-
Tes, darah segar mengalir dari hidung Shaleh. Wajahnya sedikit pucat. Tapi hari ini, Shaleh bersemangat, berharap Habil membalasnya. Sedikit mempercepat langkahnya, ia menemukan kertas yang terselip.
Waalaikumussalam. To: Bangau Kertas
Ya, aku suka.
-Habil-
Dia Habil! Matanya berkaca-kaca. Gadis itu.. ia menemukannya.
‘Dia menjuluki aku bangau kertas?’ Gumam Shaleh dalam hatinya. Siang harinya Shaleh menjatuhkan kembali bangau kertas itu, yang menjadi alat komunikasi dengannya.
Assalamualaikum. To: Habil
Kenapa?
-secret admirer-
Di lihatnya Habil tertawa. Habil pun belum pernah menengok ke atasnya hingga Shaleh bebas memperhatikannya. Namun lagi-lagi darah keluar dari hidungnya, jatuh menetes ke bawah.
Syukurnya Habil sudah berlalu selangkah. Shaleh menahannya. Ia ingin memantapkan hati untuk percaya bahwa Allah mengabulkan satu doanya yang cukup lama ia pinta.
“Shaleh kamu gak apa-apa? UKS aja yuk” Ajak teman kelasnya. Shaleh menggeleng. Saat bel pulang ia segera Stand By menunggu Habil. Lagi-lagi Shaleh mimisan. Kepalanya pun sangat sakit sekali. ia menjatuhkannya saat Habil melintas. Namun Shaleh segera turun karena sakitnya sudah luar biasa. Shaleh berpapasan dengan Habil yang sedang mendongak ke atas, karena Habil mulai penasaran dengan Shaleh. Sementara Shaleh menunduk menyembunyikan kondisinya.
Ibunya yang sudah menunggu menjemput kaget sekaligus khawatir meliat Shaleh sudah lemah. Ibu Shaleh segera membawa Shaleh ke rumah sakit. Shaleh diistirahatkan dan diperiksa keadaannya. Dokter menggeleng. Kanker itu semakin mengganas. Shaleh harus menjalani pengobatan di rumah sakit. Tapi Shaleh menolak. Shaleh tau tak seorang manusia bisa menjamin nyawa seseorang. Shaleh ingin dirawat di rumah saja.
Semakin hari sakit itu semakin menyiksa. Shaleh membuat banyak bangau kertas. Beberapa ia layangkan kepada Habil. Shaleh ingin membuat 1000 bangau kertas. Ia mempunyai 1000 harapan. Yang utamanya ia ingin Allah memperpanjang nafasnya. Shaleh senang juga sedih. Disatu sisi ia dipertemukan kembali dengan gadis yang menyemangatinya dulu, namun disatu sisi ia juga akan meninggalkannya. Shaleh sudah mempersiapkan sebuah pesan yang akan ia berikan jika Allah panggil lebih cepat. Di sela-sela ia melipat kertas-kertas itu, hatinya teriris. Berharap Allah mengabulkan juga harapannya untuk tetap hidup lebih lama. Terkadang Shaleh menjerit dalam hatinya.
‘Ya Allah.. aku ingin hidup lebih lama!!!’
Shaleh tadinya ingin memberi hadiah terakhir untuk Habil. Ia mencoba nyanyi namun ia sadar suaranya tak seindah Ariel NOAH. Ia akhirnya memutuskan untuk membuat pesan terakhir di sebuah bangau kertas yang istimewa.
Shaleh semakin tak menentu. Untuk berjalanpun sulit. Shaleh takut jika hari ini sudah berakhir untuknya. Dengan tangan bergetar ia menulis pesan untuk Habil. Ia menjatuhkan bangau kertas itu. bersamaan dengan itu, Shaleh terjatuh dan pingsan. Pihak sekolah segera menghubungi keluarga dan Shaleh segera di larikan ke rumah sakit.
Habil.. Jaga dirimu baik-baik. Carilah Pria yang baik juga untukmu. Tetap jaga ibadahmu. Ingatlah diriku, Si Bangau Kertasmu. Your secret admirer.
Sertakan aku dalam setiap Doamu. Aku mencintaimu.. sangat mencintaimu.
-Bangau Kertas-
***
Shaleh koma selama 3 hari. Kabar Shaleh koma sudah diterima pihak sekolah. Setelah sadar, Shaleh menangis. Mulutnya tak bisa ia gerakkan untuk berbicara. Ia menulis semua perasaannya. Untuk Ibunya, ayahnya, keluarganya, juga untuk Habil. Shaleh meminta beberapa kertas warna-warni. Ia tetap ingin berharap walau rasanya sudah tak mungkin. Shaleh terus menitikkan air matanya. Hingga hari ke 2 Shaleh sadar, Shaleh yang sedang sendirian keadaannya mulai kembali kritis setengah sadar ia menyelesaikan bangaunya yang ke 1000. Shaleh kembali koma.
Dalam mimpinya, banyak hal yang indah yang tak ingin di tinggalkan. Di tempat sunyi itu Shaleh berteriak. Ia tetap ingin hidup lebih lama.
Lusanya, Shaleh menemukan sebuah pintu yang sangat bersinar. Jerit tangis Ibunya tak membuat Shaleh menghentikan keinginannya untuk memasuki pintu itu.
Tepat 06 februari 2004, Shaleh pergi dengan damai. Bangau spesial itu jatuh lebih cepat ke tangan Habil.
To: Habil
Assalamualaikum Habil..
Ini tulisan terakhirku.
Sungguh, namamu ku selipkan di setiap doaku.
Aku belajar banyak darimu.
Habil..
Waktu tak mengizinkan ku bernafas lebih lama.
Sungguh, Hanya Habil wanita yang ku cintai hingga detik ini..
Kau orang lain pertama yang masuk di hatiku.
Habil..
Apa kamu memiliki perasaan terhadapku?
Akankan kamu merindukan bangau-bangau dariku?
Kubuat kan kamu 1000 bangau.
1000 bangau itu harapanku untuk hidup..
Jika bangau hijau ini sampai di tanganmu.
Mungkin sesuatu telah terjadi padaku.
Habil, terimakasih mengizinkanku untuk mencintaimu..
-Bangau Kertas-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar