Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan sahabat SMA ku. Bukan secara
kebetulan, tapi karena kami memang janjian. Kami memutuskan untuk bertemu di
depan kampusku.
Saat ku lihat dia sudah banyak berubah, menjadi lebih baik dan terlihat
sangat dewasa. Berbeda denganku yang penampakannya tidak ada yang berubah sejak
SD.
Aku menyapa dia dengan lembut dan dibalas dengan nada yang gembira.
Rindu katanya. Setelah itu aku langsung mengajaknya ke mall terdekat.
Kami banyak bercakap hari itu, saling bertukar informasi dan kabar. Ku
lihat dia sangat bahagia dengan kehidupan barunya. Dalam hati aku terus berkata
tak apa jika kehidupan baruku tidak seluar biasa kehidupan barunya.
Akhirnya hari sudah sore dan kami memutuskan untuk pulang. Aku ikut
mengantar dia, sekadar ingin tahu lokasi dia sekarang ini. Di sepanjang
perjalanan kami hanya diam, sesekali akulah yang memancing pembicaraan. Namun
mungkin kami juga terlalu lelah hari itu, tak ada pembicaraan yang berarti.
Sesampainya aku di sana, aku takjub. Betapa berbedanya kehidupan yang
kami tempuh. Dia dengan kampus yang besar apalah daya dibandingkan dengan
kampusku yang hanya seukuran salah satu gedung yang ada di sana.
Hatiku sedikit merasakan sesuatu yang tidak enak. Kemudian kami
berpapasan dengan orang yang berpakaian sangat tertutup dan dia menyapa
sahabatku ini. Aku jadi teringat dengan teman-teman barunya yang punya banyak
hapalan Al-Qur’an. Berbeda denganku yang khatam Al-Qur’an saja belum.
Sepanjang perjalanan pulangku, aku merasa sudah bukan siapa-siapa lagi.
Aku merasa iri dengan apa yang kuketahui barusan. Aku sedih jika aku akan mudah
tergeser karena aku sama sekali bukan orang yang lebih baik dari orang-orang
yang dia kenal.
Sebanyak apapun kamu berkata untuk mensyukuri apa yang aku punya, tidak
menampik bahwa aku iri dengan kehidupan hebat orang lain.
Karena itu aku, aku kunang-kunang yang sedikit diketahui keberadaannya.
Yang manfaatnya tidak seberapa dengan matahari.
Rasa iri ke hal baik itu membuktikan bahwa kamu benar-benar orang yang baik.. solusinya bukan merendah nak, tapi bersyukur karena Allah sudah memberikan perasaan istimewa itu. Itu salah satu jalan, terus semangat nak!
BalasHapusiya ibu guruuu
Hapus